Sabtu, 12 November 2011

Perilaku Menyimpang



A.    Apa itu Perilaku Menyimpang
            Fenomena perilaku menyimpang dalam kehidupan bermasyarakat  memang banyak terjadi di berbagai tindak criminal. Tindak criminal ini biasanya ditayangkan oleh berbagai stasiun televise, atau gossip – gossip yang terkesan jauh berbeda dengan kehidupan nyata di masyarakat. Perilaku menyimpang sering mendapat cacian dari masyarakat karena perilaku yang dianggap tak layak atau tak terpuji.
            Perilaku menyimpang adalah perilaku dari para warga masyarakat yang dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan, atau norma social yang berlaku di masyarakat. Secara sederhana kita memang dapat mengatakan, bahwa seseorang berperilaku menyimpang apabila menurut anggapan sebagian besar masyarakat ( minimal di suatu kelompok atau komunitas tertentu ) perilaku atau tindakan tersebut diluar kebiasaan, adat istiadat, aturan, nilai – nilai, atau norma social yang berlaku.
            Definisi tentang perilaku menyimpang bersifat relative, tergantung dari masyarakat yang mendefinisikannya, nilai – nilai budaya dari suatu masyarakat, dan masa, zaman, atau kurun waktu tertentu.
Terjadinya perilaku menyimpang, dipastikan selalu ada dalam setiap kehidupan bermasyarakat. Lebih – lebih pada masyarakat yang ebrsifat terbuka atau mungkin permisif ( serba boleh dan control sosialnya sangat longgar ). Pada masyarakat  yang sudah semakin modern dan gaya hidupnya semakin kompleks berbagai penyimpangan perilaku berseiring dnegan perilaku normal, seperti halnya ada sifat baik dan buruk, ada hitam dan putih, atau surge dan neraka.

B.     Ilmu yang mempelajari perilaku menyimpang
Dalam khazanah ilmu pengetahuan, selain sosiologi, ilmu yang mempelajari perilaku menyimpang adalah psikologi. Psikologi mempelajari tingkah laku atau perilaku seseorang sebagaimana ia merespon pengaruh – pengaruh social yang ada di sekelilingnya. Antropologi juga mempelajari perilaku menyimpang karena orang – orang yang berperilaku menyimpang cenderung mengabaikan nilai – nilai budaya kelompok atau masyarakatnya. Melalui nilai – nilai budaya maka akan diketahui karakteristik, tata aturan, dan kaidah – kaidah yang ada dalam kehidupan suatu masyarakat.
Ilmu hokum dan kriminologi juga memiliki perhatian pada studi perilaku menyimpang. Kedua ilmu itu berkepentingan dalam mempelajari sebab – sebab yang melatar belakangi terjadinya penyimpangan perilaku atau pelanggaran hokum yang dilakukan oleh para penyimpang itu. Dengan mengetahui penyebabnya, mereka dapat merumuskan kebijakan guna mencegah berulangnya pelanggaran – pelanggaran social. Namun, kalaupun pelanggaran itu berkali – kali terjadi, ilmu hokum berkepentingan untuk menetapkan bentuk – bentuk hukuman yang dapat membuat jera pelakunya.

C.    Perilaku yang digolongkan sebagai menyimpang
Ada 3 bentuk yang digolongkan sebagai perilaku menyimpang adalah :
1.      Tindakan yang nonconform
Perilaku yang tidak sesuai dengan nilai – nilai atau norma – norma yang ada. Missal, membolos atau meninggalkan pelajaran pada jam – jam kuliah dan kemudian titip tanda tangan pada teman.
2.      Tindakan yang antisocial atau social
Tindakan yang melawan kebiasaan masyarakat atau kepentingan umum. Missal, menarik diri dari pergaulan, tidak mau berteman, keinginan untuk bunuh diri, menggunakan narkotika, dan lain sebagainya.
3.      Tindakan – tindakan criminal
Tindakan yang nyata – nyata telah melanggar aturan – aturan hokum tertulis dan mengancam jiwa atau keselamatan orang lain. Missal, pencurian, perampokan, korupsi, pemerkosaan, dan lain sebagainya.

D.    Empat Definisi tentang perilaku menyimpang
Perilaku menyimpang dapat didefinisikan secara berbeda berdasarkan empat sudut pandang, antara lain :
1.      Penyimpangan secara statistical
Segala perilaku yang yang bertolak dari suatu tindakan yang bukan rata – rata atau perilaku yang jarang dan tidak sering dilaukan. Missal: bagi seseorang yang tidak pernah minum minuman alcohol atau melakukan hubungan seks di luar lembaga pernikahan, mungkin ia akan dianggap mempunyai perilaku yang menyimpang apabila kelompok mayoritasnya melakukan tindakan – tindakan tersebut.
2.      Penyimpangan secara absolute dan mutlak
Aturan – aturan dasar dari suatu masyarakat adalah jelas dan anggotanya harus menyetujui tentang apa yang disebut sebagai menyimpang dan bukan. Dengan demikian diharapkan setiap orang dapat bertindak sesuai dengan nilai yang dianggap benar dan perilaku yang dianggap menyimpang.
3.      Perilaku secara reaktif
Perilaku menyimpang menurut kaum reaktivis berkenaan dengan reaksi masyarakat atau agen control social terhadap tindakan yang dilaukan oleh seseorang. Jadi, apa yang menyimpang dan apa yang tidak, tergantung dari ketetapan – ketetapan dari anggota masyarakat terhadap suatu tindakan.
4.      Perilaku secara normative
Perilaku ini didasarkan bahwa penyimpangan adalah suatu pelanggaran dari suatu norma social. Norma dalam hal ini adalah suatu standart tentang apa yang seharusnya dipikrkan, dikatakan, atau dilakukan oleh warga masyarakat pada suatu keadaan tertentu.
Jadi, definisi secara normative dari suatu perilaku menyimpang adalah tindakan yang menyimpang dari norma norma, dimana tindakan tersebut tidak disetujui dan dianggap tercela dari masyarakat dan akan mendapatkan sanksi negative dari masyarakat.
Kualitas tindakan menyimpang yang dilakukan oleh seseorang dapat dikategorikan berdasarkan rangkaian pengalaman dalam melakukan tindakan tersebut. Rangkain pengalaman seseorang dimulai dari penyimpangan – penyimpangan kecil yang mungkin tidak disadarinya. Ini termasuk jenis penyimpangan primer ( primary deviance ). Penyimpangan jenis ini dialami oleh seseorang mana kala ia belum memiliki konsep sebagai penyimpang atau tidak menyadari jika perilakunya menyimpang. Missal, sepasang remaja yang sedang berpacaran dianggap tidak menyimpang sepanjang mereka tidak melakukan hubungan seks pra nikah.
E.     Subkultur Menyimpang
Perilaku menyimpang tidak saja dilakukan secara perorang, tapi tak jarang juga dilakukan oleh kelompok acap yang disebut dengan subkultur menyimpang. Asal mula terjadinya subkultru menyimpang karena ada interaksi diantara sekelompok orang yang mendapatkan status atau cap menyimpang. Melalui interaksi dan intensitas pergaulan yang cukup erat diantara mereka, maka terbentuklah perasaan senasib dalam menghadapi dilemma yang sama.
Para anggota dari suatu subkultur menyimpang biasanya juga mengajarkan kepada anggota – anggota barunya tentang berbagai keterampilan untuk melanggar hokum dan menghindari kejaran agen – agen social masyarakat.
F.     Teori perilaku menyimpang yang berperspektif sosiologis
Ada dua perspektif yang bias digunakan untuk memahami sebab – sebab dan latar belakang seseornag atau sekelompok orang berperilaku menyimpang. Yang pertama adalah prespektif individualistic dan yang ke dua adalah teori – teori sosiologi.
Teori – teori individualistic berusaha mencari penjelasan tentang munculnya tindakan menyimpang melalui kondisi yang secara unik memengaruhi individu. Teori – teori individualistic sebagian besar didasarkan pada proses – proses yang sifatnya individual dan mengabaikan proses sosialisasi atau belajar tentang norma – norma social yang menyimpang.
Berbeda halnya dengan teori individualistic, teori – teori yang bersperspektif sosiologis tentang penyimpangan berupaya menggali kondisi – kondisi social yang mendasari penyimpangan, missal, proses penyimpangan yang ditetapkan oleh masyarakat; bagaimana factor – factor kelompok dan subkultur berpengaruh terhadap terjadinya perilaku menyimpang pada seseorang; dan reaksi – reaksi apa yang diberikan oleh masyarakat pada orang – orang yang dianggap menyimpang dari norma – norma sosialnya.
Teori – teori penyimpangan bersperspektif sosiologis ada lima teori, antara lain :
a.       Teori Anomie
Teori ini berasumsi bahwa penyimpangan adalah akibat dari adanya berbagai ketegangan dalam suatu struktur social sehingga ada individu – individu yang mengalami tekanan dan akhirnya menjadi menyimpang. Pada dasarnya untuk mencapai tujuan status ( kesuksesan hidup ) seseorang harus melalui cara yang sah, tetapi ironisnya struktur social terkadang tidak dapat menyediakan kesempatan yang sama bagi semua orang untuk dapat meraih tujuann status dan kulturalnya. Hanya, lapisan – lapisan masyarakat tertentu yang punya akses yang sah saja yang dapat meraih mimpi tersebut.
b.      Teori Belajar atau Teori Sosialisasi
Teori ini menyebutkan bahwa penyimpangan perilaku adalah hasil dari proses belajar. Teori Asosiasi Diferensial dapat diterapkan untuk menganalisis :
1.      Organisasi social atau subkultur
2.      Penyimpangan perilaku di tingkat individual
3.      Perbedaan norma – norma yang menyimpang ataupun yang tidak, terutama pada kelompok atau asosiasi yang berbeda.
Di tingkat kelompok, perilaku menyimpang adalah suatu konsekuensi dari terjadinya konflik normative. Artinya, perbedaan aturan social di berbagai kelompok social, seperti sekolah; tetangga; kelompok teman sekeluarga atau keluarga, dapat membingungkan individu yang masuk ke dalam komunitas – komunitas tersebut. Situasi itu dapat menyebabkan ketegangan yang berujung menjadi konflik normative pada diri individu.
c.       Teori Labeling ( Teori pemberian cap atau teori reaksi masyarakat )
Teori labeling menjelaskan penyimpangan terutama ketika perilaku itu sudah sampai pada tahap penyimpangan sekunder ( secondary deviance ). Dalm teori ini tidak berusah untuk menjelaskan mengapa individu – individu tertentu tertarik atau terlibat dalam tindakan menyimpang, tetapi yang lebih ditekankan adalah pada pentingnya definisi – definisi social dan sanksi – sanksi social negative yang dihubungkan dengan tekanan – tekanan individu untuk masuk dalam tindakan yang lebih menyimpang.
Analisis tentang pemberian cap itu dipusatkan pada reaksi orang lain. Artinya ada orang – orang yang member definisi, julukan atau pemberi label pada individu – individu atau tindakan yang menurut penilaian orang tersebut adalah negative.
Melalui definisi itu dapat dijelaskan bahwa menyimpang adalah tindakan yang dilabelkan kepada seseorang, atau pada siapa label secara khusus telah ditetapkan. Dengan demikian, dimensi penting dari penyimpangan adalah pada adanya reaksi masyarakat, bukan pada kualitas dari tindakan itu sendiri. Atau dengan kata lain, penyimpangan tidak ditetapkan berdasarkan norma, tetapi melalui reaksi atau sanksi dari penonton sosialnya.
d.      Teori Kontrol
Teori control adalah penyimpangan merupakan hasil dari kekosongan control atau pengandalian social. Teori ini dibangun atas dasar pandangan bahwa setiap manusia cenderung untuk tidak patuh pada hukum atau memiliki dorongan untuk melakukan pelanggaran hukum.
Ada empat unsure utama di dalam control social, diantaranya :
1.      Attachement atau kasih saying adalah sumber kekuatan yang muncul dari hasil sosialisasi di dalam kelompok primernya, sehingga individu punya komitmen kuat untuk patuh pada aturan.
2.      Commitment atau tanggung jawab yang kuat pada aturan dapat memberikan kerangka kesadaran tentang masa depan. Bentuknya, berupa kesadaran bahwa masa depannya akan suram apabila ia melakukan tindakan menyimpang.
3.      Involvement, artinya dengan adanya kesadaran tersebut, maka individu akan terdorong berperilaku partisipasif dan terlibat di dalam ketentuan – ketentuan yang telah ditetapkan oleh masyarakat.
4.      Believe atau kepercayaan, kesetiaan, dan kepatuhan pada norma – norma social atau aturan masyarakat pada akhirnya akan tertanam kuat pada diri seseorang.
e.       Teori Konflik
Teori konflik lebih menitikberatkan analisisnya pada asal – usul tercipta nya suatu aturan atau tertib social. Teori ini tidak bertujuan untuk menganalisis terjadinya pelanggaran peraturan atau latar belakang seseorang berperilaku menyimpang.


Tidak ada komentar:

Rara KaLendeR

TransLator

Kamus Indonesia-Korea

Korean Keyboard

Kamus Korea-Indonesia